Erotisme dalam rempah adalah obsesi yang begitu tinggi terhadap sensasi gairah yang membuat pikiran menjadi tidak rasional.

Jika dilihat dari lima abad yang lalu bahwa Eropa memiliki keberanian untuk mempertaruhkan kapal dan juga harta hanya demi mendapatkan cengkih yang hanya tumbuh di pulau kecil Ternate, ini menunjukkan bahwa nafsu seperti itu bagi Jack Turner kedengarannya nyaris seperti rasa birahi yang mendominasi dari pada rasa keingintahuan terhadap rempah. Ini tidak bergerak dengan alsan dari setiap faktor yang dialami Eropa pada abad itu, dari awal keinginan untuk menciptakan rasa yang lebih kaya hingga bergerak dengan hasrat untuk bisa menguasai sumber daya secara langsung. Tentu saja jika tidak dengan fantasi yang berkembang pada masa itu dengan cerita kemisteriusan datangnya rempah yang dipercaya berasal dari surga, rempah tidak akan memiliki daya tarik yang begitu tinggi sehingga imperialis tidak akan tumbuh menjadi sesuatu yang begitu kejam. Ini memunculkan satu pertanyaan, apakah hasrat dari orang Eropa itu sudah selesai? Rasanya belum selesai begitu mudah, mereka hanya mengubah kulit saja dengan era saat ini.
Yang terlihat saat ini adalah sawit yang dimiliki Indonesia memasok hampir separuh kebutuhan minyak nabati untuk dunia, diikuti dengan nikel yang terdapat di Sulawesi dan juga Maluku Utara yang menjadi incaran berbagai negara seperti Cina yang terus mengembangkan baterai untuk kebutuhan produksi mobil listrik mereka. Bahkan batu bara terus-menerus digali di Kalimantan yang padahal saat ini beberapa orang sedang gencar untuk mengakmpanyekan soal transisi energi, pola yangterlihat tetap sama namun hanya berubah wujud saja.
Bisa disimpulkan bahawa orang lua negeri masih memiliki hasrat yang begitu tinggi, yang berubah hanyalah kemasannya yang berganti dari rempah menuju sumber daya alam lainnya seperti nikel, sawit, dan batu bara. Jika dulu hasrat itu dibungkus dengan cerita fantasi dengan dunia ajaib dan eksotis, kini bungusnya berganti Bahasa menjadi investasi, hilirisasi, serta rantai pasokan global. Sayangnya Indonesia tidak bergeser jauh menjadi hanya sekedar pemasok bahan mentah, cukup jarang menjadi penentu harga apalagi pemegang rantai nilai dunia. Tentunya bagi pemerintah hal ini tidak mungkin dibiarkan, sebagai pemegang kendali terhadap bangsa pemerintah mencoba untuk membudidayakan bahan mentah seperti bijih nikel untuk diolah terlebih dahulu sebelum diekspor.
Menurut artikel jurnal yang ditulis oleh Jordy tentang Untangling Nickel Downstreaming: A Political Economy Analysis of Indonesia’s Morowali Industrial Park, menjelaskan tentang ironi yang dirasakan Indonesia seagai pemilik cadangan nikel terbesar bagi dunia sekitar setengah dari total cadangan global. Tetapi selama puluhan tahun Indonesia hanya menjadi tukang gali bahan mentah tanpa mengolah secara mandiri, kemudian menjual bahan mentah tersebut dengan harga murah dan membeli produk olahan dengan harga yang mahal dari luar negeri. Walaupun begitu, dalam artikel jurnal yang ditulis oleh Jordy menyebutkan pada tanggal 1 Januari 2020 pemerintah melarang ekspor bijih nikel dan harus diolah terlebih dahulu di dalam negeri. Menciptakan proyek raksasa yang berada di Morowali, Sulawesi Tengah, lewat industry yang bernama IMIP (Indonesia Morowali Industrial Park).
Erotisme global terhadap kekayaan yang dimiliki oleh Nusantara hanya berganti ruang. Jika selama lima abad silam gudang rempah di Maluku menjadi tujuan utama, kini berubah ke bijih seperti nikel, batu bara, sekaligus kebun sawit. Rasa lapar yang dipertahankan orang-orang luar tetap sama, yang menjadi pertanyaan kembali yang belum terjawab adalah kapan giliran kita untuk menentukan harganya?
Lanjut ke Bagian 5 →

Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry. Lorem Ipsum has been the industry's standard dummy text ever since 1966, when designe

Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry. Lorem Ipsum has been the industry's standard dummy text ever since 1966, when designe