Erotisme dalam rempah adalah obsesi yang begitu tinggi terhadap sensasi gairah yang membuat pikiran menjadi tidak rasional.

Kita telah melihat bagaimana hasrat yang begitu tinggi menciptakan keinginan yang begitu irasional, membuat mereka rela memberikan nyawa hanya demi mendapatkan sebuah bumbu rempah. Keinginan akan ekonomi saja tentu tidak akan membuat mereka rela melakukan hal sesuatu yang bertolak dari akal, tetapi akibat obsesi yang begitu parah akan rempah menjadikan sesuatu yang irasional menjadi rasional bagi mereka.
Lantas bagaimana keadaan Asia Tenggara pada masa ekspedisi penjelajahan yang dilakukan Eropa berabad-abad yang lalu? Apakah mungkin orang-orang Nusantara termasuk di sini yang lebih mendapatkan layar adalah Maluku, telah memiliki sistem ekonomi rempah nya sendiri? Tentu saja Maluku telah mengetahui bahwa komoditas mereka cukup diminati oleh orang-orang barat khusunya Eropa, bisa dilihat dari tulisan Jack Turner dalam buku Sejarah Rempah bahwa Maluku merupakan kepulauan yang begitu kecil hingga jika dilihat dari jauh terlihat seperti topi zamrud penyihir di atas samudra. Walaupun Maluku dianggap sebagai kepulauan kecil, mereka tetaplah penghasil rempah utama bagi bangsa Eropa serta dunia. Sebab hanya di kedua pulau di Maluku yaitu Ternate dan Tidore lah yang menghasilkan rempah begitu banyak setiap tahunnya, diikuti dengan beberapa kepualauan kecil seperti Motir, Makian, dan Bakan.
Tome Pires di buku Suma Oriental menyebutkan bahwa rempah yang dihasilkan oleh kelima pulau tersebut mencapai 6 hingga 7 ribu bahar cengkeh yang setiap cengkehnya bernilai cukup tinggi sekitar 500 reis atau seharga barang dagangan yang berasal dari Malaka untuk satu bahar rempah, harga yang sangat murah bagi orang Eropa atau tepatnya Portugis yang pada sat itu mengambil rempah di kepulauan Maluku. Penghasil rempah yang paling banyak berada di Ternate yang selama setahun dapat menghasilkan 100 hingga 150 bahar cengkeh, hasil rempah yang diperoleh begitu banyak karena Ternate memiliki 6 kelompok pohon cengkeh yang dapat dipanen hinga enam kali atau bahkan lebih selama setahun. Jika Ternate adalah pemanen rempah yang paling banyak, Tidore berkebalikan, walau pulau tersebut juga menghasilkan rempah tetapi yang lebih dominan adalah Tidore merupakan penghasil bahan makanan terbesar di Maluku.
Diikuti dengan ketiga pulau kecil di Maluku yaitu Motir, Makian, serta Bakan. Merka adalah penghasil rempah yang tidak begitu besar jika dibandingkan dengan Ternate, namun tetap saja kita tidak bisa meninggalkan peran ketiga pulau tersebut dalam menghasilkan rempah untuk menjadi komoditas utama di Maluku. Yang disayangkannya adalah konflik internal yang terjadi di dalam kesultanan Ternate dan Tidore, sejak dahulu mereka bermusuhan walau mereka memiliki ikatan saudara.
Maluku bukanlah pulau yang terisolasi dari dunia luar, mereka telah menjalin perdangan dari berbagai negara dengan melewati dua jalur yakni utara dan selatan. Dalam penjelasan Tome Pires bahwa dua jalur tersebutlah yang menghubungkan jalur perdagangan dunia luar dengan Maluku, setiap negara memiliki jalur yang mereka sukai terutama jalur selatan yang begitu digemari oleh para pedagang Melayu karena mereka selalu berhenti di setiap pelabuhan Jawa untuk menjual dagangan Malaka dan Portugis yang melewati jalur utara karena tidak perlu transit di berbagai pelabuhan (ini dikarenakan misi Portugis yang fokus untuk mencari Maluku). Bahkan jaringan perdagangan Maluku menyambung dari jalur Malabar, Teluk Persia, Jazirah Arab, sampai pada akhirnya komoditas ini tiab di Mediterania lewat Alexandria dan Venesia.
Yang menariknya bahwa tidak ada satupun yang mengetahui rantai jalur tersebut, yang membuat rempah menjadi sebuah "kemisteriusan" dikalangan penjual dan orang Eropa yang mulai mengetahui bahawa sebuah bumbu rempah begitu eksis. Bahkan Jack Turner di sini lebih dijelaskan bahwa alasan mengapa orang Eropa menganggap rempah sebagai bumbu yang berasal dari surga, dikarenakan mereka mengaitkan kedatangan rempah yang melewati sungai Nil begitu sampai menuju Alexandria. Menurut kitab kejadian bahwa sungai Nil bersumber dari air mancur taman Firdaus, inilah yang mengakibatkan rempah dikaitkan dengan sifat religius orang Eropa pada masa itu. Dengan teknik pemasaran yang begitu khas abad pertengahan memiliki peranan penting di sini, dengan mengaitkan rempah yang berasal dari tepat jauh yang bahkan segelintir orang Eropa menganggap rempah berasal dari surga menjadikan nilai rempah begitu tinggi.
Lanjut ke Bagian 3 →

Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry. Lorem Ipsum has been the industry's standard dummy text ever since 1966, when designe

Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry. Lorem Ipsum has been the industry's standard dummy text ever since 1966, when designe